Langsung ke konten utama

Hey, aku pernah menyukaimu—


Hey, aku pernah menyukaimu—
sebelum dirimu menyukaiku.
Aku juga pernah menyukaimu begitu dalam yang bahkan palung mariana aja kayanya bakal kalah sama aku. 
Aku juga pernah menyukaimu setinggi awan putih yang sedang berkumpul dengan temannya, dan aku yakin awan itu bakal iri sama aku. Haha. Keren bukan? 
Aku bisa begitu tinggi dan dalam menyukaimu, dengan rasa yang tiba-tiba manis seperti coklat atau bahkan pahit seperti kopi hitam.

Hey, aku begitu bodoh ya dulu—
membiarkan rasa ini tumbuh seiring berjalannya waktu, tanpa menyadari bahwa rasa ini tidak ada apa-apanya jika hanya pulpen dan kertas yang tau. Bahwa rasa ini akan berubah kebalikannya jika aku yang terlalu menyukaimu. 

Dan akhirnya, ya. Takdir itu datang. 
Hey, aku tidak menyesal untuk mengenalmu. Tapi, Aku menyesal telah membiarkan rasa ini tumbuh terlalu tinggi dan tenggelam terlalu dalam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Istirahat

Ternyata cerita yang harusnya indah, malah kebalikannya. Yang harus nya kita bersua di akhir cerita, malah ada kita yang berduka sebelum cerita berakhir. Tenang saja, ini hanya 1 dari ratusan cerita yang bisa kita buat. Kita bisa bangun cerita baru, yang tokohnya tetap aku dan kamu.  Kita gaboleh egois sama semesta, yang udah berjuang untuk mempertemukan. Dengan berterima kasih pada nya, yang tidak menyatukan kita. Karena mungkin jika kita bersatu akan ada banyak warna yang pudar di alam raya.  Apakah kamu ingat kapan kita bertemu untuk pertama kali? bertemu dalam sebuah acara yang orang orang gabakal menyangka bahwa kamu sama aku. Karena kita jelas berbeda, kamu dengan segala keistimewaanmu, dan aku dengan segala kekuranganku. Terima kasih sudah menjadi teman, dengan tidak memberi harapan.  Dan semua juga tau bukan? bahwa terkadang kita harus menutup buku walau ceritanya belum selesai, karena kita tau bahwa raga ini butuh istirahat.