Hey, aku pernah menyukaimu—
sebelum dirimu menyukaiku.
Aku juga pernah menyukaimu begitu dalam yang bahkan palung mariana aja kayanya bakal kalah sama aku.
Aku juga pernah menyukaimu setinggi awan putih yang sedang berkumpul dengan temannya, dan aku yakin awan itu bakal iri sama aku. Haha. Keren bukan?
Aku bisa begitu tinggi dan dalam menyukaimu, dengan rasa yang tiba-tiba manis seperti coklat atau bahkan pahit seperti kopi hitam.
Hey, aku begitu bodoh ya dulu—
membiarkan rasa ini tumbuh seiring berjalannya waktu, tanpa menyadari bahwa rasa ini tidak ada apa-apanya jika hanya pulpen dan kertas yang tau. Bahwa rasa ini akan berubah kebalikannya jika aku yang terlalu menyukaimu.
Dan akhirnya, ya. Takdir itu datang.
Hey, aku tidak menyesal untuk mengenalmu. Tapi, Aku menyesal telah membiarkan rasa ini tumbuh terlalu tinggi dan tenggelam terlalu dalam.
Komentar
Posting Komentar