Langsung ke konten utama

Postingan

Pertama

Sebenarnya saya takut untuk memulai tulisan ini. Banyak yang belum selesai, entah dari diri saya sendiri atau bahkan dari diri Anda.  Seorang yang belum selesai, lalu bertemu dengan seorang yang sudah siap untuk memulai suatu cerita. Ah indahnya. Disatukan dalam sebuah cerita yang mereka memang ditakdirkan untuk buat cerita tersebut. Pertemuannya indah, bahkan sangat indah. Walau dalam bentuk virtual. Yang dimana Sang tokoh utama memulai perannya dalam sebuah pertemuan virtual (juga) dengan berkata 'Hai, Raya'. Lalu disambut baik dengan lawan bicaranya 'Hai juga'.  Jika dibilang awal yang baik, ya memang, itu sangat baik untuk memulai suatu pertemanan yang baru. Awal yang saaaanggaaattt baikkkk. Hey, namun siapa sangka bahwa itu menjadi awal sebuah hubungan? 
Postingan terbaru

Hey, aku pernah menyukaimu—

Hey, aku pernah menyukaimu— sebelum dirimu menyukaiku. Aku juga pernah menyukaimu begitu dalam yang bahkan palung mariana aja kayanya bakal kalah sama aku.  Aku juga pernah menyukaimu setinggi awan putih yang sedang berkumpul dengan temannya, dan aku yakin awan itu bakal iri sama aku. Haha. Keren bukan?  Aku bisa begitu tinggi dan dalam menyukaimu, dengan rasa yang tiba-tiba manis seperti coklat atau bahkan pahit seperti kopi hitam. Hey, aku begitu bodoh ya dulu— membiarkan rasa ini tumbuh seiring berjalannya waktu, tanpa menyadari bahwa rasa ini tidak ada apa-apanya jika hanya pulpen dan kertas yang tau. Bahwa rasa ini akan berubah kebalikannya jika aku yang terlalu menyukaimu.  Dan akhirnya, ya. Takdir itu datang.  Hey, aku tidak menyesal untuk mengenalmu. Tapi, Aku menyesal telah membiarkan rasa ini tumbuh terlalu tinggi dan tenggelam terlalu dalam.

Hari Itu

Akhirnya aku bisa menulis ini setelah seminggu dari hari dimana kita benar - benar berpisah. Mungkin itu waktu yang cukup lama untuk berdialog dengan diri sendiri. Bahkan setelah seminggu aku berdialog sendiri pun rasanya tidak bisa dituangkan dengan baik dalam tulisan betapa sedihnya hari itu. Tetapi pada kenyataannya, di hari itu kita tetap tertawa kesana dan kemari. Menutupi kesedihan dengan foto bersama atau menceritakan kelucuan yang dialami bersama. Tapi setelah acara itu selesai, huh betapa sangat terasa kesedihan dan kehilangan ini. Hei, bahkan sebelum hari itu tiba aku sudah menumpahkan air mata dan berbicara kepada diri sendiri. Bahwa, perpisahan ternyata bukan tentang "Hanya raga yang berpisah, kita pasti ketemu lagi". Lebih dari itu, lebih dari sekedar "Raga yang berpisah". Tapi, juga berpisah dengan sifat kita di masa itu, kenangan dan semua cerita yang terjadi ditempat itu.  Ternyata, berpisah dengan sifat kita lalu berubah menjadi dewasa, ...

Pertemuan

Dari sekian banyaknya kisah pertemuan, jadi ini kisah yang kita pilih. Bertemu di sebuah acara (lagi) yang seharusnya aku menikmati acaranya, bukan jatuh cinta (lagi). Ya namanya juga perasaan, aku gak bisa memaksakan dia hilang atau ada disaat yg tepat.  Tapi, aku harap hanya aku yang merasakannya. Merasakan bahwa memang kita tidak pernah ditakdirkan untuk saling sapa, jangankan untuk itu, untuk menatapmu saja kayanya semesta gak berpihak ya. Buktinya, dari awal hingga akhir acara kita tak bertatap, entah emang semesta yang gak mau atau dari kamunya. Aneh ya.  Katamu, kita tak lebih daripada teman, tapi kenapa setelah acara usai kamu minta maaf di dunia maya? "maafin aku nam, kalo tadi aku ga nyapa kamu, aku gabisa" . Yasudah, kalo gak bisa ya gak apa apa, tapi kenapa kamu malah minta maaf setelah kita setahun tak berkabar? Hei, aku ini manusia. Aku punya perasaan. Kamu gak bisa seenaknya seperti itu. Seharusnya kamu sudah memutuskan untuk gak berkabar ke aku lag...

Kembali

Jadi, gini rasanya dipertemukan setelah dipisahkan dalam waktu yang lama. Yang harusnya saling merindukan jadi saling mengasingkan. Mungkin ini memang waktunya untuk mensudahi.  Hey, dari awal juga dia hanya teman mu dan akan terus begitu. Jadi, buat apa mengungkapkan perasaan yang tidak seharusnya? toh, pada akhirnya hanya ada dua kemungkinan. Dan kemungkinan terbesarnya adalah dia menjauh, meninggalkanmu. Seolah tak pernah ada kisah kalian berdua. Dan pada akhirnya juga, semua yang ditakuti akan terjadi, pada saat itu juga kamu menyesali. Bersiap siap untuk berpisah dan menata hati kembali untuk kesekian kali.  ;dariku yang menyesal tiada henti. 

Setahun

Selamat ulang tahun pertemanan! Iya pertemanan.  Semoga kita akan selalu menjadi teman baik, entah baik untuk diri kita sendiri atau baik untuk diri kita berdua. Setahun yang lalu kita belum saling kenal, lebih tepatnya kamu belum kenal aku.  Lalu di hari ini, kita diperkenalkan oleh semesta untuk menjadi teman baik. Teman yang dengan segala cara diciptakan untuk saling menguatkan, saling mendukung dan bahkan saling mendoakan.   Di hari ini, semoga tak ada lagi kita yang saling berduka. Tak ada lagi kita yang bertukar kecewa dan luka. Dan jika pun ada, mari kita perbaiki bersama, bukannya menghilang ditelan samudra.  Aku tak berharap kamu membaca ini, juga tak berharap untuk membuat mu kembali. Karena dari setiap yang disudahi, tak akan bisa sama lagi dikemudian hari.  Jangan bersedih, karena pada hakikatnya semua kejadian didunia ini semu, tak ada yang abadi. Begitu pun kita, yang dititipkan oleh semesta untuk menjadi saling dan pada akhirnya m...

Istirahat

Ternyata cerita yang harusnya indah, malah kebalikannya. Yang harus nya kita bersua di akhir cerita, malah ada kita yang berduka sebelum cerita berakhir. Tenang saja, ini hanya 1 dari ratusan cerita yang bisa kita buat. Kita bisa bangun cerita baru, yang tokohnya tetap aku dan kamu.  Kita gaboleh egois sama semesta, yang udah berjuang untuk mempertemukan. Dengan berterima kasih pada nya, yang tidak menyatukan kita. Karena mungkin jika kita bersatu akan ada banyak warna yang pudar di alam raya.  Apakah kamu ingat kapan kita bertemu untuk pertama kali? bertemu dalam sebuah acara yang orang orang gabakal menyangka bahwa kamu sama aku. Karena kita jelas berbeda, kamu dengan segala keistimewaanmu, dan aku dengan segala kekuranganku. Terima kasih sudah menjadi teman, dengan tidak memberi harapan.  Dan semua juga tau bukan? bahwa terkadang kita harus menutup buku walau ceritanya belum selesai, karena kita tau bahwa raga ini butuh istirahat.