Sebenarnya saya takut untuk memulai tulisan ini. Banyak yang belum selesai, entah dari diri saya sendiri atau bahkan dari diri Anda. Seorang yang belum selesai, lalu bertemu dengan seorang yang sudah siap untuk memulai suatu cerita. Ah indahnya. Disatukan dalam sebuah cerita yang mereka memang ditakdirkan untuk buat cerita tersebut. Pertemuannya indah, bahkan sangat indah. Walau dalam bentuk virtual. Yang dimana Sang tokoh utama memulai perannya dalam sebuah pertemuan virtual (juga) dengan berkata 'Hai, Raya'. Lalu disambut baik dengan lawan bicaranya 'Hai juga'. Jika dibilang awal yang baik, ya memang, itu sangat baik untuk memulai suatu pertemanan yang baru. Awal yang saaaanggaaattt baikkkk. Hey, namun siapa sangka bahwa itu menjadi awal sebuah hubungan?
Hey, aku pernah menyukaimu— sebelum dirimu menyukaiku. Aku juga pernah menyukaimu begitu dalam yang bahkan palung mariana aja kayanya bakal kalah sama aku. Aku juga pernah menyukaimu setinggi awan putih yang sedang berkumpul dengan temannya, dan aku yakin awan itu bakal iri sama aku. Haha. Keren bukan? Aku bisa begitu tinggi dan dalam menyukaimu, dengan rasa yang tiba-tiba manis seperti coklat atau bahkan pahit seperti kopi hitam. Hey, aku begitu bodoh ya dulu— membiarkan rasa ini tumbuh seiring berjalannya waktu, tanpa menyadari bahwa rasa ini tidak ada apa-apanya jika hanya pulpen dan kertas yang tau. Bahwa rasa ini akan berubah kebalikannya jika aku yang terlalu menyukaimu. Dan akhirnya, ya. Takdir itu datang. Hey, aku tidak menyesal untuk mengenalmu. Tapi, Aku menyesal telah membiarkan rasa ini tumbuh terlalu tinggi dan tenggelam terlalu dalam.